CONTOH PTK


BAB I PENDAHULUAN

A. Profil Proses Pembelajaran di Kelas

Banyak yang mengatakan pelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran di sekolah yang sangat gampang, selain bahasa Indonesia adalah bahasa nasional kita, juga bahasa Indonesia adalah bahasa sehari-hari  dalam proses pembelajaran mata pelajaran lain agar lebih cepat dipahami.

SMP Guppi Samata adalah salah satu sekolah yang tentunya mempelajari bahasa Indonesia, siswa yang ada di sana ternyata dari berbagai daerah di Sulawesi-Selatan. Hal ini tentunya akan membuat mereka wajib menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari, dikarenakan bahasa daerah atau bahasa ibu mereka yang berbeda dan  bahasa Indonesia di sini akan membuat suatu komunikasi lancar antar siswa.

Dalam pelaksanaan observasi mahasiswa P2K FKIP Unismuh Makassar, masih banyak diperoleh kekurangan-kekurangan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam berbicara. Berbicara secara sekilas memang gampang seperti kutipan diatas, namun kendala yang sering kita jumpai adalah kekurang lancaran berbicara, kekurang tepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.

kekurangan berbicara siswa dipengaruhi dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur. Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya.

B. Profil Hasil Belajar

Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-B SMP Guppi Samata, Kabupaten Gowa , Provinsi Sulawesi-Selatan. Berdasarkan hasil observasi, hanya 10% (4 siswa) dari 45 siswa yang dinilai sudah terampil bercerita dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam bercerita, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.

C. Rumusan Masalah Berdasarkan Profil Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar

Berdasarkan profil proses pembelajaran dan hasil belajar yang telah dikemukakan di atas, masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan bercerita bagi siswa SMP?

D. Pemecahan Masalah

Seperti telah peneliti kemukakan bahwa masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah rendahnya tingkat keterampilan berbicara, khususnya siswa kelas VII SMP Guppi Samata, Kabupaten Gowa, dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan refleksi awal, siswa kelas VII SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa yang dinilai sudah mampu menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif baru sekitar 10% (4 siswa) dari 45 siswa. Data ini masih jauh dari standard ketuntasan belajar minimal secara nasional, yaitu 75%.

Masalah rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam menceritakan pengalaman yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan kalimat efektif akan dipecahkan dengan menggunakan pendekatan pragmatik melalui enam langkah, antara lain sebagai berikut.

1.            Siswa memilih dan mencatat pengalaman mengesankan yang ingin diceritakan.

2.            Siswa mencatat identitas penutur dan mitra tutur, yaitu orang-orang yang terlibat dalam pengalaman yang akan diceritakan.

3.            Siswa mencatat konteks tuturan, yaitu latar belakang pengetahuan yang dimiliki penutur dan mitra tutur.

4.            Siswa mencatat tujuan tuturan, yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur berdasarkan pengalaman yang akan diceritakan.

5.            Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan verbal berdasarkan hal-hal yang telah dicatat sebelumnya. Bentuk tindakan verbal berupa tindak tutur yang dihasilkan oleh alat ucap, berupa kata-kata dan kalimat.

6.            Siswa bertindak tutur melalui wujud tindakan nonverbal untuk memperjelas tindakan verbal yang telah dilakukan. Tindakan nonverbal berupa tindak tutur yang dihasilkan melalui kontak mata, mimik, gerak tangan, atau gerak anggota badan yang lain.

Melalui alur penggunaan pendekatan pragmatik tersebut, siswa diharapkan dapat menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang efektif sesuai konteks dan situasi tutur. Artinya, pilihan kata dan struktur kalimat yang digunakan dalam bercerita sangat  ditentukan oleh konteks dan situasi tutur yang telah ditentukan oleh siswa. Pendekatan ini memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih dan menentukan pengalaman yang hendak diceritakan, sedangkan guru hanya memberikan rambu-rambu sebagai pedoman bagi siswa dalam bercerita.

E. Ada Argumentasi Logis Pilihan Tindakan

Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia melalui pendekatan pragmatik pada murid kelas VII B SMP I Guppi Samata.

F. Tujuan Penelitian

Saat ini, arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Secara garis besar, tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri, 1987 dan Sadtono, 1988).

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Relevansi antara konsep/ teori yang Dikaji sesuai dengan Permasalahan

Untuk mengkaji penggunaan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan keterampilan bercerita bagi siswa SMP digunakan teori yang berkaitan dengan keterampilan bercerita dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan keterampilan bercerita bagi siswa SMP.

Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara di SMP

Menurut Halliday (1975) siswa itu belajar berbahasa, belajar melalui bahasa, dan belajar tentang bahasa. Pengembangan bahasa pada anak memerlukan kesempatan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, kita membutuhkan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan yang banyak atau kaya bagi siswa untuk menggunakan bahasa di dalam cara-cara yang fungsional (Gay Su Pinnel dan Myna L. Matlin, 1989:2).

Guru yang memberi siswa kesempatan mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks akan meningkatkan pembelajaran karena mereka (guru) memberi siswa pelatihan di dalam keterampilan yang terintegrasi dengan literasi tingkat tinggi. Komunikasi adalah inti pengajaran language arts, sementara itu tugas-tugas komunikasi yang kompleks adalah inti kemahirwacanaan tingkat tinggi (high literacy) (CED, 2001).Selanjutnya, guru yang memberi pengalaman kepada siswa dengan pembelajaran terpadu melalui lingkungan mahir literasi (literate environment) ternyata dapat meningkatkan pembelajaran karena mereka (siswa) menggunakan proses-proses yang saling berkaitan antara membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan untuk komunikasi alamiah senyatanya (authentic commmunication) (Salinger, 2001). Namun, secara jujur harus diakui bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP belum berlangsung seperti yang diharapkan. Pembelajaran Bahasa Indonesia lebih cenderung bersifat teoretis dan kognitif daripada mengajak siswa untuk belajar berbahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata. Akibatnya, apa yang diperoleh siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tidak bias diterapkan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pembelajaran Bahasa Indonesia terlepas dari konteks pengalaman dan lingkungan siswa. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia dalam peristiwa dan konteks komunikasi.

Apa yang kita amati dari hasil pembelajaran di sekolah dasar dan menengah di Indonesia adalah ketidakmampuan anak-anak menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pengetahuan itu dimanfaatkan untuk memecahkan persoalan sehari-hari (Direktorat SLTP, 2002). Apa yang anak-anak peroleh di sekolah, sebagian hanya hafalan dengan tingkat pemahaman yang rendah. Siswa hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengenal fakta-fakta, sementara keterkaitan antara fakta-fakta itu dengan pemecahan masalah belum mereka kuasai.

Dalam konteks demikian, diperlukan upaya serius melalui penggunaan pendekatan yang inovatif dan kreatif agar pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP bisa berlangsung dalam suasana yang kondusif, interaktif, dinamis, terbuka, menarik, dan menyenangkan. Melalui proses pembelajaran semacam itu, siswa diharapkan dapat menumbuhkembangkan kemampuan intelektual, sosial, dan emosional, sehingga mampu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar sesuai dengan konteks dan sitiuasinya.

Hal itu sejalan dengan pernyataan dalam lampiran Peraturan Mendiknas RI Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya yang berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat SMP/MTs. Dalam lampiran tersebut secara eksplisit ditegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.

Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu menciptakan suasana yang kondusif; interaktif, dinamis, terbuka, inovatif, kreatif, menarik, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik.

Pendekatan pragmatik termasuk salah satu pendekatan komunikatif yang mulai digunakan dalam pengajaran bahasa sejak munculnya penolakan terhadap paham behaviorisme melalui metode Drill-nya. Pendekatan komunikatif dalam pengajaran bahasa dirintis oleh Michael Halliday dan Dell Hymes. Hymes menciptakan istilah communicative competence, yaitu kompetensi berbahasa yang tidak hanya menuntut ketepatan gramatikal, tetapi juga ketepatan dalam konteks sosial (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:4).

Proses pemerolehan bahasa mempersyaratkan adanya interaksi yang bermakna dalam bahasa sasaran. Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi proses pemerolehan bahasa dapat dipilah menjadi dua golongan, yaitu faktor eksternal dan faktor internal (Chaika, l982). Faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan bahasa seseorang, sedangkan faktor internal berkaitan dengan keadaan intern di dalam diri pelahar bahasa. Faktor eksternal masih dipilah menjadi dua macam lagi, yaitu lingkungan bahasa makro dan lingkungan bahasa mikro. Lingkungan makro terdiri atas (1) kealamiahan bahasa, (2) peranan anak-anak dalam berkomunikasi, (3) tersedianya sumber yang dapat membetulkan untuk menjelaskan makna, dan (4) ketersediaan model atau contoh yang bisa ditiru. Lingkungan mikro adalah keadaan lingkungan kelas tempat anak-anak belajar, yaitu bagaimana guru bisa menciptakan kelas agar anak-anak bisa belajar keterampilan berbahasa, bukan hanya tahu tentang bahasa saja.

Dari berbagai penelitian tentang pengajaran bahasa disimpulkan bahwa keterampilan berbahasa anak, khususnya keterampilan berbicara, dikembangkan melalui tiga cara, yaitu: (1) anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan memproduksi ujaran dalam bahasa target secara lebih sering, lebih tepat, dan dalam variasi yang luas; (2) Anak-anak mengembangkan bahasa keduanya dengan cara mengolah input dari ujaran orang lain; dan (3) anak-anak mengembangkan  bahasa keduanya melalui pelibatan diri dalam tugas atau interaksi yang menuntut adanya kemampuan kreatif berkomunikasi dengan orang lain (Ellis, 1986).

Hal itulah yang kemudian menjadi cacatan penting dalam penelitian pengajaran bahasa, yaitu pengikutsertaan anak-anak dalam latihan komunikasi itu amat penting. Anak-anak dengan tingkat pembangkitan input yang tinggi (high input generating) memperoleh kemampuan berbahasanya dari bertanya, menjawab, menyanggah, dan beradu argumen dengan orang lain. Anak-anak yang lambat belajar, berarti ia juga pasif dalam berlatih berbahasa nyata atau pasif dalam berkomunikasi menggunakan bahasa.

Inti dari temuan itu adalah bahwa keaktifan anak-anak di kelas dalam pembelajaran bahasa perlu dilakukan melalui aktivitas berlatih berujar secara nyata. Penelitian-penelitian itu pada akhirnya menghasilkan sejumlah hipotesis baru tentang pembelajaran bahasa. Secara umum ada korelasi antara perilaku aktif ini dengan perolehan belajar anak. Dengan kata lain, hasil penelitian dalam bidang pengajaran bahasa menyarankan adanya program pengajaran bahasa yang menekankan pada pembangkitan input anak-anak (latihan bercakap-cakap,  membaca, atau menulis yang sebenarnya).

Pembelajaran kompetensi komunikatif yang menjadi muara akhir pencapaian pembelajaran bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri: (1) makna itu penting, mengalahkan struktur dan bentuk; (2) konteks itu penting, bukan item bahasa; (3) belajar bahasa itu belajar berkomunikasi; (4) target penguasaan system bahasa itu dicapai melalui proses mengatasi hambatan berkomunikasi; (5) kompetensi komunikatif menjadi tujuan utama, bukan kompetensi kebahasaan; (6)  kelancaran dan keberterimaan bahasa menjadi tujuan, bukan sekedar ketepatan bahasa. Siswa didorong untuk selalu berinteraksi dengan siswa lain (Brown, 2001:45).

Penggunaan pendekatan paragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga dilandasi oleh semangat pembelajaran kontruktivistik yang memiliki ciri-ciri: (1) perilaku dibangun atas kesadaran diri; (2) keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman; (3) hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri, berdasarkan motivasi intrinsik; (4) seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya; (5) pembelajaran bahasa dilakukan dengan pendekatan komunikatif, yaitu siswa diajak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dalam konteks nyata; (6) siswa menggunakan kemampuan berpikir kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran; (7) pengetahuan yang dimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri, dengan cara memberi makna pada pengalamannya. Oleh karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incomplete); (8) siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi; (9) hasil belajar diukur dengan berbagai cara dan dari berbagai sumber; (10) pembelajaran terjadi di berbagai konteks dan setting (Zahorik dalam Kurikulum 2004: Naskah Akademik Mata pelajaran Bahasa Indonesia 2004:21-22).

Penggunaan pendekatan pragmatik dalam pengajaran Bahasa Indonesia juga didasari oleh prinsip bahwa guru mengajarkan bahasa Indonesia sebagai sebuah keterampilan, antara lain pengintegrasian antara bentuk dan makna, penekanan pada kemampuan berbahasa praktis, dan interaksi yang produktif antara guru dengan siswa. Prinsip pertama menyarankan agar pengetahuan dan keterampilan berbahasa yang diperoleh, berguna dalam komunikasi sehari-hari (meaningful). Dengan kata lain, agar dihindari penyajian materi (khususnya kebahasaan) yang tidak bermanfaat dalam komunikasi sehari-hari, misalnya, pengetahuan tata bahasa bahasa Indonesia yang sangat linguistis.

Prinsip kedua menekankan bahwa melalui pengajaran bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu menangkap ide yang diungkapkan dalam bahasa Indonesia, baik lisan maupun tulis, serta mampu mengungkapkan gagasan dalam bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis. Penilaian hanya sebagai sarana pembelajaran bahasa, bukan sebagai tujuan.

Prinsip ketiga mengharapkan agar di kelas terjadi suasana interaktif sehingga tercipta masyarakat pemakai bahasa Indonesia yang produktif. Tidak ada peran guru yang dominan. Guru diharapkan sebagai “pemicu” kegiatan berbahasa lisan dan tulis. Peran guru sebagai orang yang tahu atau pemberi informasi pengetahuan bahasa Indonesia agar dihindari.

Ciri lain yang menandai adanya penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan bercerita adalah penggunaan konteks tuturan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memperoleh gambaran penggunaan bahasa Indonesia dalam konteks dan situasi yang nyata.

Konteks adalah sesuatu yang menjadi sarana pemerjelas suatu maksud. Sarana itu meliputi dua macam, yaitu: (1) berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud; dan (2) berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian. Konteks yang berupa bagian ekspresi yang dapat mendukung kejelasan maksud disebut koteks (co-text), sedangkan konteks yang berupa situasi yang berhubungan dengan suatu kejadian disebut konteks (contex) (Rustono 1999:20). Makna sebuah kalimat baru dapat dikatakan benar apabila diketahui siapa pembicaranya, siapa pendengarnya, kapan diucapkan, dan lain-lain (Lubis 1993:57).

Menurut Alwi et al. (1998:421), konteks terdiri dari unsur-unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat adegan, topik, peristiwa, bentuk amanat, kode, dan sarana. Bentuk amanat sebagai unsur konteks, antara lain dapat berupa surat, esai, iklan, pemberitahuan, pengumuman, dan sebagainya.

Di dalam peristiwa tutur, ada sejumlah faktor yang menandai keberadaan peristiwa itu. Menurut Hymes (1968) (melalui Rustono 1999:21), faktor-faktor itu berjumlah delapan, yaitu: (1) latar atau scene, yaitu tempat dan suasana peristiwa tutur; (2) participant, yaitu penutur, mitra tutur, atau pihak lain; (3) end atau tujuan; (4) act, yaitu tindakan yang dilakukan penutur di dalam peristiwa tutur; (5) key, yaitu nada suara dan ragam bahasa yang digunakan di dalam mengekspresikan tuturan dan cara mengekspresikannya; (6) instrument, yaitu alat melalui telepon atau bersemuka; (7) norm atau norma, yaitu aturan permainan yang harus ditaati oleh setiap peserta tutur; dan (8) genre, yaitu jenis kegiatan, seperti wawancara, diskusi, kampanye, dan sebagainya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa ciri-ciri konteks itu mencakupi delapan hal, yaitu penutur, mitra tutur, topik tuturan, waktu dan tempat bertutur, saluran atau media, kode (dialek atau gaya), amanat atau pesan, dan peristiwa atau kejadian. Di dalam novel, konteks tuturan tampak pada dialog antartokoh yang memenuhi ciri-ciri konteks sebagaimana dikemukakan oleh Hymes (1968).

Menurut Rustono (1999:26), situasi tutur adalah situasi yang melahirkan tuturan. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan bahwa tuturan merupakan akibat, sedangkan situasi tutur merupakan sebabnya. Di dalam komunikasi, tidak ada tuturan tanpa situasi tutur. Memperhitungkan situasi tutur amat penting di dalam pragmatik. Maksud tuturan yang sebenarnya hanya dapat diidentifikasi melalui situasi tutur yang mendukungnya. Penentuan maksud tuturan tanpa mengalkulasi situasi tutur merupakan langkah yang tidak akan membawa hasil yang memadai. Pertanyaan apakah yang dihadapi itu berupa fenomena pragmatis atau fenomena semantis dapat dijawab dengan kriteria pembeda yang berupa situasi tutur. Komponen-komponen situasi tutur menjadi kriteria penting di dalam menentukan maksud suatu tuturan.

Menurut Leech (1983:13-15), situasi tutur mencakupi lima komponen, yaitu penutur dan mitra tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan tuturan sebagai produk tindak verbal. Komponen situasi tutur yang pertama adalah penutur dan mitra tutur. Penutur adalah orang yang bertutur, yaitu orang yang menyatakan tuturan tertentu di dalam peristiwa komunikasi. Sementara itu, mitra tutur adalah orang yang menjadi sasaran sekaligus kawan penutur di dalam peristiwa tutur. Di dalam peristiwa komunikasi, peran penutur dan mitra tutur dilakukan secara silih berganti. Yang semula berperan sebagai penutur pada tahap berikutnya dapat menjadi mitra tutur, demikian pula sebaliknya. Aspek-aspek yang terkait dengan penutur dan mitra tutur antara lain usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat keakraban.

Komponen situasi tutur yang kedua adalah konteks tuturan. Di dalam tata bahasa, konteks tuturan mencakupi semua aspek fisik atau latar sosial yang relevan dengan tuturan yang diekspresi. Konteks yang bersifat fisik, yaitu fisik tuturan dengan tuturan lain yang biasa disebut dengan ko-teks, sedangkan konteks latar sosial lazim dinamakan konteks. Di dalam pragmatik, konteks berarti semua latar belakang pengetahuan yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tuturnya. Konteks berperan membantu mitra tutur di dalam menafsirkan maksud yang ingin dinyatakan oleh penutur.

Komponen situasi tutur yang ketiga adalah tujuan tuturan, yaitu apa yang ingin dicapai oleh penutur dengan melakukan tindakan bertutur. Komponen ini menjadi hal yang melatarbelakangi tuturan. Semua tuturan orang normal memiliki tujuan. Hal ini berarti tidak mungkin ada tuturan yang tidak mengungkapkan suatu tujuan. Di dalam peristiwa tutur, berbagai tuturan dapat diekspresi untuk mencapai suatu tujuan.

Komponen situasi tutur yang keempat adalah tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Komponen ini mengandung maksud bahwa tindak tutur merupakan tindakan juga tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit dan menendang. Yang berbeda adalah bagian tubuh yang berperan. Jika mencubit yang berperan adalah tangan dan menendang yang berperan adalah kaki, pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan. Tangan, kaki, dan alat ucap adalah bagian tubuh manusia.

Komponen situasi tutur yang kelima adalah tuturan sebagai produk tindak verbal. Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Tindakan manusia dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Mencubit dan menendang adalah tindakan nonverbal, sedangkan berbicara atau bertutur adalah tindakan verbal, yaitu tindak mengekspresikan kata-kata atau bahasa. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Komponen lain yang dapat menjadi unsur situasi tutur antara lain waktu dan tempat pada saat tuturan itu diproduksi. Tuturan yang sama dapat memiliki maksud yang berbeda akibat perbedaan waktu dan tempat sebagai latar tuturan.

Berdasarkan beberapa pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan pendekatan pragmatik sebagai inovasi dalam pengajaran keterampilan bercerita di SMP dimaksudkan untuk melatih dan membiasakan siswa untuk berbicara sesuai dengan konteks dan situasi tutur senyatanya sehingga siswa dapat memperoleh manfaat praktis untuk diterapkan dalam peristiwa komunikasi sehari-hari.

BAB III

PROSEDUR PELAKSANAAN

A. Jumlah siswa, tempat dan waktu pelaksanaan KKP

Penelitian ini dilaksanakan di SMP GUPPI Samata Gowa. Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas VII B pada semeter ganjil 2008/2009 yang berjumlah 40 orang

B. Langkah-langkah pembuatan perangkat pembelajaran inovatif seperti RPP dan alat evaluasi

1. Faktor yang diselidiki

a.      Faktor siswa yaitu akan diselidiki bagaimana metode pragmatik bagi siswa dalam belajar bahasa dan sastra indonesia selama pelaksanaan kegiatan tindakan kelas. Bersamaan dengan itu akan dilihat pula mengenai sikap dan cara belajar siswa selama mengikuti proses belajar mengajar.

a.

b.      Faktor sumber pelajaran yaitu dengan memperhatikan sumber atau bahan pelajaran yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Penelitian tindakan kelas ini direncanakan sebanyak 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti apa yang di desain dalam faktor yang diselidiki.

Secara rinci peleksanaan penelitian untuk dua siklus tindakan ini sebagai berikut :

1. Siklus 1

a.    Tahap perencanaan

Pada tahap perencanaan yang dilaksanakan yaitu :

1.  Telaah kurikulum.

2.  Membuat rencana pengajaran untuk setiap pertemuan.

3.  Merancang dan membuat soal-soal yang akan diberikan kepada siswa.

4.  Membuat format observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas ketika pelaksanaan tindakan sedang berlangsung.

5.  Mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan berbicara.

6.  Membuat alat penilaian untuk mengukur hasil belajar siswa..

b.    Tahap tindakan

Secara umum tindakan yang dilakukan pada siklus 1 adalah :

1. Mengajarkan materi sesuai dengan rencana pengajaran

2. Melaksanakan Praktek dalam pembelajaran

3. Meminta tanggapan siswa tentang praktek berbicara yang diberikan pada akhir siklus I

4. Menganalisis tanggapan yang diberikan oleh siswa untuk merumuskan rencana pada siklus berikutnya.

c.    Tahap observasi

Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan soal-soal dan praktek  yang telah dibuat untuk mengetahui hasil belajar pada siklus I serta proses belajar mengajar.

d.    Tahap refleksi

Hasil diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis. Dari hasil tersebut direfleksikan terhadap tindakan yang dilakukan. Selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan siklus pada siklus berikutnya.

2. Siklus II

Kegiatan yang dilakukan pada siklus II ini adalah sebagai berikut :

a.   Tahap perencanaan

Pada tahap ini direncanakan kegiatan berdasarkan hasil pada refleksi siklus I

b.    Tahap tindakan

Tindakan siklus II yaitu melanjutkan langkah-langkah yang telah dilakukan pada siklus I yang sesuai dengan perencanaan siklus I.

c.    Tahap observasi

Secara umum tahap observasi siklus II ini adalah melanjutkan kegiatan atau pada siklus I.

d.   Tahap refleksi

Pada tahap refleksi umumnya langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II seperti halnya yang dilakukan pada siklus I.

C. Implementasi RPP dan Evaluasi Kelas (Terlampir)

BAB IV

HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil Pelaksanaan

Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil penelitian mengenai peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia siswa Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa melalui metode pragmatik  dari siklus I  ke siklus II dengan menggunakan analisis kualitatif yaitu data tentang hasil pengamatan, sedangkan data tentang hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif.

Analisis Deskriptif Siklus I

Hasil observasi awal dari pelaksanaan penelitian tindakan ini diperoleh kemampuan awal siswa Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa berupa hasil tes awal pokok bahasan berbicara  yang disajikan pada Tabel 1 berikut ini:

Tabel 1  Statistik Skor Siklus I Siswa Kelas VIIB

SMP GUPPI Samata Gowa

STATISTIK NILAI STATISTIK
Subyek

Skor Ideal

Skor Tertinggi

Skor Terendah

Rentang Skor

Skor Rata-rata

45

100

100

20

80

4,13

Tabel 1 menujukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Berbicara siswa sebelum pada siklus I adalah 4,13 dari skor ideal 100. Skor tertinggi 100 dan skor terendah adalah 20 dengan standar  rentang skor 80 yang berarti hasil belajar yang Berbicara yang dicapai siswa Kelas VII  SMP GUPPI Samata Gowa tersebar dari skor terendah 20 sampai 100 atau berkisar antara 20% sampai dengan 100%.

Apabila skor kemampuan awal siswa dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor yang ditunjukkan pada
Tabel 2 berikut:

Tabel 2 berikut:

Tabel 2  Distibusi Frekuensi dan Persentase Hasil Kemampuan Awal Siswa Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa

No Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.

2.

3.

4.

5.

0 – 34

35 – 54

55 – 64

65 – 84

85 – 100

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat Tinggi

31

8

1

1

4

70

15

2.5

2.5

10

Jumlah 45 100

Berdasarkan Tabel 2 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 45 siswa Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa terdapat 31 siswa atau sekitar 70% siswa yang tingkat hasil belajar bahasa indonesia dalam hal berbicara  pada kategori sangat rendah, pada kategori rendah ada 8 siswa atau sekitar 15%, kemudian pada kategori sedang terdapat 1 siswa

atau sekitar 2,5%, pada kategori tinggi terdapat 1 siswa atau sekitar 2.5%, dan pada kategori sangat tinggi 4 siswa atau sekitar 10%.

Analisis Deskriptif Hasil Tes Akhir Siklus II

Dari hasil analisis deskriptif terhadap skor hasil belajar siswa setelah diterapkan metode Pragmatik selama berlangsungnya siklus II terdapat pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3  Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Tes Akhir Siklus II

STATISTIK NILAI STATISTIK
Subyek

Skor Ideal

Skor Tertinggi

Skor Terendah

Rentang Skor

Skor Rata-rata

45

100

100

20

80

5,00

Tabel 3 menujukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar Berbicara siswa  pada siklus II adalah 5,00 dari skor ideal 100. Skor tertinggi 100 dan skor terendah adalah 20 dengan standar  rentang skor 80 yang berarti hasil belajar yang Berbicara yang dicapai siswa Kelas VII  SMP GUPPI Samata Gowa tersebar dari skor terendah 20 sampai 100 atau berkisar antara 20% sampai dengan 100%.

Tabel 4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa    Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa

No Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1.

2.

3.

4.

5.

0 – 34

35 – 54

55 – 64

65 – 84

85 – 100

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat Tinggi

23

6

5

3

8

51

13

11

7

18

Jumlah 45 100

Berdasarkan Tabel 4 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 45 siswa Kelas VII B SMP GUPPI Samata Gowa terdapat 23 siswa atau sekitar 51% siswa yang tingkat hasil belajar bahasa indonesia dalam hal berbicara  pada kategori sangat rendah ada 6  siswa atau sekitar 13 %, kemudian pada kategori sedang terdapat 5 siswa atau sekitar 11 %, pada kategori tinggi terdapat 3 siswa atau sekitar 27 %, dan pada kategorii sangat tinggi 8 siswa atau sekitar 18 %.

Tabel 5  Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa Kelas VIIB SMP GUPPI Samata Gowa pada Tes Awal dan Setelah Proses Pembelajaran pada Siklus I dan Siklus II

No Interval

Skor

Kategori FREKUENSI PERSENTASE (%)
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
1.

2.

3.

4.

5.

0 – 34

35 – 54

55 – 64

65 – 84

85 – 100

Sangat rendah

Rendah

Sedang

Tinggi

Sangat Tinggi

31

8

1

1

4

23

6

5

3

8

70

15

2,5

2,5

10

51

13

11

7

18

Jumlah 45 45 100 100

Sikap Siswa Selama Proses Pembelajaran Siklus I

Data tentang sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa indonesia diperoleh melalui lembar observasi. Adapun deskriptif tentang sikap siswa selama mengikuti proses pembelajaran pada siklus I ditunjukan dalam tabel berikut:

Tabel 6 : Hasil observasi sikap siswa selama mengikuti pembelajaran siklus I

No Komponen yang diamati S

I

K

L

U

S

I

Pertemuan Ke- Rata – Rata Persentase

(%)

I II III IV
1 Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran 35 39 40 40 T

E

S

S

I

K

L

U

S

I

38.5 85,55
2 Siswa yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran 22 24 24 25 23,75 52,77
3 Siswa yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) 6 9 7 3 7 15,55
4 Siswa yang aktif dalam pembelajaran 3 5 5 10 5.75 12,77
5 Siswa yang berbicara dengan benar di depan kelas 3 4 5 3 3,75 8,33
6 Siswa yang masih perlu bimbingan dalam berbicara 30 10 11 10 15,25 33,88
7 Siswa yang kurang percaya diri dalam berbicara 9 7 8 10 8,5 18,88
8 Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada saat pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu, ribut, dll) 8 5 5 1 4,75 10,55

Pada Tabel 6 diperoleh bahwa pada siklus I dari 45 siswa, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 85,55 %; Siswa yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran sebanyak 52,77%; Siswa yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) mencapai 15,55 %; Siswa yang aktif dalam pembelajaran  12,77 %; Siswa yang berbicara  dengan benar di depan kelas pada saat pembelajaran mencapai 8,33 %; Siswa yang masih perlu bimbingan sebanyak 33,88 %; Siswa yang kurang percaya diri dalam berbicara  sebanyak 18,88 %; dan Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada saat pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu, ribut, dll) sebanyak 10,55 %.

Sikap Siswa Selama Proses Pembelajaran Siklus II

Data tentang sikap siswa selama mengikuti pelajaran bahasa indonesia pada siklus II ditunjukkan dalam tabel berikut:

Tabel 7: Hasil observasi sikap siswa selama mengikuti pembelajaran siklus II

No Komponen yang diamati S

I

K

L

U

S

II

Pertemuan Ke- Rata – Rata Persentase

(%)

I II III IV
1 Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran 39 40 40 41

T

E

S

S

I

K

L

U

S

II

40 88,88
2 Siswa yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran 23 24 24 25 24 53,33
3 Siswa yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) 7 9 7 3 6,5 14,44
4 Siswa yang aktif dalam pembelajaran 5 5 5 10 6,25 13,88
5 Siswa yang berbicara dengan benar di depan kelas 3 5 5 3 4,0 8,88
6 Siswa yang masih perlu bimbingan dalam berbicara 30 10 11 10 12,75 28,33
7 Siswa yang kurang percaya diri dalam berbicara 9 7 8 10 8,5 18,88
8 Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada saat kuis (sering keluar kelas, mengganggu, ribut, dll) 8 5 5 2 5,0 11,11

Pada Tabel 7 diperoleh bahwa pada siklus I dari 45 siswa, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran sebanyak 88,88 %; Siswa yang memperhatikan pada saat proses pembelajaran sebanyak 53,33 %; Siswa yang melakukan aktifitas negatif selama proses pembelajaran (main-main, ribut, dll) mencapai 14,44 %; Siswa yang aktif dalam pembelajaran  13,88 %; Siswa yang berbicara  dengan benar di depan kelas pada saat pembelajaran mencapai 8,88 %; Siswa yang masih perlu bimbingan sebanyak 28,33 %; Siswa yang kurang percaya diri dalam berbicara  sebanyak 18,88 %; dan Siswa yang melakukan aktifitas negatif pada saat pembelajaran (sering keluar kelas, mengganggu, ribut, dll) sebanyak 11,11 %.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.   Kesimpulan

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terutama dalam pembelajaran berbicara memang sering kita mengalami kendala-kendala seperti, tingkat kepercayaan diri yang kurang, minimnya bahasa yang digunakan, kurang efektifnya bahasa yang di ucapkan membuat berbicara sangat sulit dalam kegiatan formal.

Dengan metode pragmatik yang lebih cenderung dalam praktek membuat kesukaran dalam berbicara dapat diatasi, sehingga secara berangsur setiap siswa dapat berbicara secara efektif dan benar sesuai dengan yang diharapkan.

B.  Saran

1.     Pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih memperhatikan lagi inti-inti yang terpenting dalam bahasa itu sendiri, seperti berbicara, menulis, mendengar dan membaca.

2.     Dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebaiknya lebih banyak menggunakan metode pragmatik.

Lampiran :

RPP 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Mata Pelajaran                        : Bahasa dan Sastra Indonesia

Kelas / Semester                    : 1/2

Pertemuan ke                         :

Alokasi waktu                          : 4 X 40 menit

Standar Kompetensi               :

-                Memahami ragam teks nonsastra dengan berbagai cara   membaca

-                Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk

Kompetensi Dasar

-                Menemukan makna kata tertentu dalam kamus secara   cepat dan tepat dengan konteks yang dinginkan melalui kegiatan membaca memindai

-                 Menulis surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah dengan sistimatika yang tepat dalam bahasa baku

-                Mempresentasikan isi surat di muka kelas

Indicator

-                Mampu menemukan Tema secara cepat dan tepat

-                Mampu menemukan makna kata secara cepat dan tepat  dengan konteks yang diinginkan

-                Mampu mempresentasikan isi surat di muka kelas

Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat menemukan arti kata sukar dan membuat surat resmi

Mampu berbicara resmi di muka kelas

Materi Ajar

-                Cara menemukan makna kata secra cepat dan tepat dan implementasinya

-                Penulisan surat dinas berkenaan dengan kegiatan sekolah

Metode Pembelajaran

Metode Pragmatik

Langkah Pembelajaran

Kegiatan Awal

  1. Apersepsi
  2. Tanya jawab tentang materi

Kegiatan Inti

  1. Siswa mencari kata sukar dalam bacaan
  2. Siswa mencari arti kata sukar dalam kalimat
  3. Siswa membuat kalimat dari kata sukar tersebut
  4. Guru menjelaskan sistimatika surat resmi dan tidak resmi
  5. Siswa membuat surat resmi
  6. guru memberi contoh presentasi surat

Kegiatan Akhir

Siswa dan guru melakukan refleksi

Alat/bahan/sumber belajar

-          Buku bahasa dan sastra Indonesia

-          Surat resmi dari pemerintah

Penilaian

  1. situs artinya…………..
  2. copy artinya……………..
  3. online artinya……………..
  4. chatting artinya……………..
  5. homepage artinya……………..
  6. publikasi artinya……………..
  1. Buatlah contoh surat resmi kepada pengurus osis untuk peminjaman sarana olah raga?
  2. presentasekanlah di muka kelas isi surat yang anda buat!

Guru pembimbing                                                                               Mahasiswa

 

Rahmawati, S.Pd                                                                                sabri, A.Ma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s