Contoh Skripsi


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kata merupakan salah satu unsur dasar bahasa yang sangat penting. Dengan kata-kata kita berpikir, menyatakan perasaan, serta gagasan. Dengan kata-kata dapat menjalin persahabatan, dua bangsa melakukan perjanjian perdamaian dan kerja sama. Tetapi sebaliknya, dengan kata-kata pula mungkin suatu pertengkaran bahkan peperangan dimulai (Subarti dkk, 1988 : 82).

Di dalam bahasa manapun konsep dinyatakan dengan kata atau rangkaian kata. Kita dapat menguasai bahasa hanya jika menguasai sejumlah kata. Meskipun demikian menguasai kata saja belum berarti menguasai bahasa.

Memilih kata yang tepat untuk menyampaikan gagasan terutama melalui tulisan merupakan suatu pekerjaan yang cukup sulit bahkan dapat dikatakan bagian tersulit dalam proses penulisan. Dalam kegiatan komunikasi, kata-kata dijalin dalam suatu komunikasi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam suatu bahasa. Setiap anggota masyarakat yang terlebih didalam kegiatan komunikasi, selalu berusaha agar orang-orang lain dapat memahaminya dan di samping itu harus bisa memahami orang lain. Dengan cara ini terjalinlah komunikasi dua arah yang baik dan harmonis.

Kosakata bahasa Indonsia terus bertambah dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan dan kebutuhan hidup manusia. Bahasa yang lengkap sebagai alat komunikasi yang ampuh mencakupi seluruh kehidupan terutama bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, makin mendesak pemenuhan kebutuhan.

Dalam perkembangan bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi merupakan mata pelajaran yang bersifat umum, sehingga dalam proses penyampaiannya tidak hanya terbatas dalam interaksi belajar mengajar, tetapi setiap siswa atau mahasiswa dituntut untuk mengembangkan bahasa Indonesia secara luas.

Sehubungan dengan pelajaran bahasa Indonesia di SD kelas V Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 mengupayakan siswa mampu menulis kreatif, menyunting karangan sendiri atau karangan sendiri atau karangan orang lain dengan memperhatikan penggunaan ejaan, tanda baca, struktur, dan kepaduan isi karangan.

Untuk mencapai tujuan pengajaran bahasa seperti yang telah diuraikan di atas, hendaknya guru lebih banyak memberikan latihan dalam melibatkan siswa dalam situasi berbahasa dalam artian bahwa guru harus memberikan latihan-latihan dan contoh-contoh penggunaan bahasa yang baik dan benar. Salah satu di ataranya memisahkan suku kata atau cara penulisan kata bahasa Indonesia. Penulisan kata ini sangat penting dalam bahasa Indonesia, karena dalam berbahasa sering kata dasar mengalami perubahan karena mendapat imbuhan, pengulangan, penggabungan. Untuk dapat memahami seluk beluk penulisan kata maka siswa, guru dituntut lebih kreatif dalam proses belajar mengajar.

Sehubungan dengan latar belakang pemikiran di atas, maka penulis perlu mengadakan penelitian tentang kemampuan memisahkan suku kata khususnya suku kata bahasa Indonesia. Dengan hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan dasar pemikiran untuk menyusun pengajaran bahasa Indonesia pada umumnya, dan program penulisan suku kata pada khususnya.

Adapun yang menjadi pertimbangan penulis memisahkan suku kata bahasa Indonesia sebagai objek penelitian, karena masih banyak siswa Sekolah Dasar yang masih kurang memahami cara memisahkan suku kata. Selama ini penelitian dalam bidang kebahasaan lebih banyak berfokus pada aspek keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) dan interferensi bahasa pertama dan bahasa kedua, sedangkan masalah kebahasaan yang khas yang penting sangat kurang diangkat menjadi objek penelitian dalam penelitian pendidikan/pengajaran bahasa. Padahal, masalah semacam ini yang spesifik sifatnya perlu juga mendapat perhatian sebagai suatu fenomena kebahasaan yang tidak kurang pentingnya dalam pengajaran bahasa.

 

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikemukakan sehubungan dengan pelaksanaan penelitian ini adalah: “Bagaimanakah kemampuan memisahkan suku kata dalam konstruksi kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar?”

 

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, ialah: “untuk mengetahui kemampuan memisahkan suku kata dalam konstruksi kalimat bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar”.

 

D. Manfaat Hasil Penelitian

Dari hasil yang diperoleh berdasarkan tujuan penelitian, maka diharapkan dapat:

1.      Memberikan sumbangan/masukan kepada pembinaan dan pengembangan pengajaran bahasa Indonesia, khususnya yang menyangkut pengajaran bahasa di SD.

2.      Memberikan sumbangan/masukan dalam rangka penyusunan materi pelajaran bahasa Indonesia di SD.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika mengacu pada pedoman penulisan skripsi yang disusun secara sistematis meliputi:

1.      Bab pertama adalah pendahuluan

Pendahuluan adalah permulaan dari sebuah pembukaan atau kata pengantar dari sebuah buku atau karangan. Di dalam pendahuluan terdapat latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

2.      Bab kedua adalah tinjauan pustaka dan kerangka pikir

Pada bab ini terdapat tinjauan pustaka dan kerangka piker. Tinjauan pustaka adalah gambaran atau batasan-batasan tentang teori-teori yang akan dipakai sebagai landasan penelitian yang akan dilakukan. Sedangkan, kerangka piker adalah dasar daripemikiran dalam melakukan suatu pekerjaan (yang berkaitan dengan teori atau hipotesis).

3.      Bab ketiga adalah metode penelitian

Metode penelitian adalah suatu cara atau strategi yang ditempuh dalam penelitian ilmiah untuk mencari kebenaran. Pada metode penelitian terdapat variabel penelitian, sumber data,dan teknik pengumpulan data.

4.      Daftar pustaka

Daftar pustaka adalah daftar yang menyebutkan judul-judul buku, nama pengarang, tahun, tempat terbit, dan penerbit yang ditempatkan pada bagian akhir karangan atau buku dan disusun sesuai dengan abjad.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Persukuan Kata dalam Bahasa Indonesia

Setiap suku kata bahasa Indonesia ditandai oleh sebuah vokal. Vokal ini dapat didahului atau diikuti oleh konsonan.

a.       Bahasa Indonesia mengenal empat macam pola umum suku kata

1) V                       a-nak, i-bu, ba-u

2) VK                    ar-ti, ma-in, om-bak

3) KV                    ra-kit, ma-in i-bu

4) KVK                 pin-tu, kur-si, ma-kan

b.      Di samping itu bahasa Indonesia memiliki pola suku kata yang berikut:

5) KKV                 pra-ja, sas-tra, in-fra

6) KKVK              blok, trak-tor, prak-tis

7) VKK                 eks, ons

8) KVKK              teks, pers, kon-teks

9) KKVKK           kom-pleks

10) KKKV              stra-tegi, in-stru-men

11) KKKVK           struk-tur, in-struk-tur

c.       Pemisahan suku kata pada kata dasar sebagai berikut:

12)  Kalau di tengah kata ada dua vokal yang berurutan pemisahan tersebut dilakkukan di antara kedua vokal itu.

Misalnya: ma-in, sa-at, bu-ah

13) Kalau di tengah kata ada konsonan di antara dua vokal, pemisahan tersebut dilakukan sebelum konsonan itu. Karena ng, ny, sy, dan kh melambangkan satu konsonan, gabungan huruf itu tidak pernah diceraikan sehingga pemisahan suku kata terdapat sebelum atau sesudah pasangan huruf itu.

Misalnya: sa-ngat, nyo-nya, i-sya-rat, a-khir, ang-ka, akh-lak

14). Kalau ditengah kata ada konsonan yang berurutan pemisahan tersebut terdapat diantara kedua konsonan itu.

Misalnya: man-di, som-bong, swas-ta, cap-lok, ap-ril

15). Kalau di tengah  kata ada tiga konsonan atau lebih, pemisahan tersebut dilakukan diantara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan yang kedua.

Misalnya: in-stru-men, ul-tra, in-fra, bang-krut, ben-trok

d.      Imbuhan termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, dan partikel yang biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya dalam penyukuan kata dipisahkan sebagai satu kesatuan.

Misalnya: ma-ka-nan, me-me-nuh-i, bel-a-jar, mem-ban-tu, per-gi-lah

 

 

 

2. Beberapa Catatan tentang Persukuan Kata Bahasa Indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan

Pola persukuan kata

Ada kata yang juga perlu diperhatikan pola persekutuannya karena kata ini sering dipakai dalam bahasa Indonesia yang pemakaiannya menunjukkan kualitas yang cukup tinggi. Kata yang dimaksud adalah “korps”.

1)  Korps pegawai negeri, yang biasa disingkat “KORPRI”

2)  Korps Musik

3)  Korps Diplomatik

4)  Korps Taruna

5)  Mereka mempertahankan korpsnya

Kata ini merupakan unsure serapan dari kata/bahasa asing. Ejaan yang asalnya “korps” (Bel.Ing). Dengan penulisan “Korps”, menunjukkan bahwa penulisan konsonan c diganti dengan k. Hal ini sudah sesuai dengan peraturan yang termuat dalam buku Pedoman Umum Pembentukan Istilahyang berbunyi “c di muka a, u, e, o, dan konsonan, menjadi k”.

Kata korps hanya mempunyai satu kata vokal yaitu o. Karena itu kata ini hanya terdiri atas suku kata. Kalau dibuat polanya berbentuk KVKKK.

Misalnya pada suku kata KVKKK tidak terdapat dalam pola persekutuan kata seperti yang telah dikemukakan di atas. Kita tidak menemui pola suku kata dimana V diikuti oleh KKK. Yang ada, V hanya diikuti oleh KK (dua konsonan).

3. Konsonan yang dieja ks

Rangkaian konsonan yang dieja ks yang terletak di tengah kata yang berasal dari unsur serapan, berasal dari konsonan yang dieja: x, xc, cc, dan ct

Misalnya:

a.       ks dari x

1).  taksi, taxi ( Bel.Ing)

eksekutif, executive (Ing)

eksamen, examen (Bel)

akspedisi, expeditie (Bel), expression (Ing)

2).  eksport, export (Bel)

eksplisit, explicit (Ing)

ekspresi, expresio (Lat), expression (Ing)

ekstern, extern (Bel)

ekstra, extra (Bel. Ing)

b.      ks dari xc

ekses, exces (Bel) excess (Ing)

eksentrik, excentrik (Bel)

c.       ks dari cc

aksen, accent (Bel. Ing) akselerasi, acceleratie (Bel)

 

 

 

4. Persekutuan Kata Serapan

Tentang persekutuan kata seperti kata serapan, misalnya: Transmigrasi, transliterasi, transaksi, transpormasi, transfusi, transisi, transistor.

Kalau kata seperti “transmigrasi” dikategorikan sebagai kata dasar (bukan kata jadian), maka persukuan katanya sebagai berikut: tran-smig-rasi, tidak menuruti peraturan pemisahan suku kata bahasa Indonesia seperti yang tercantum dalam pola persukuan.

Kalau kata ini dikategorikan sebagai kata jadian seperti asalnya, maka dapat diasalkan “migrasi” mendapat awalan “trans” (trans+migrasi). Rupanya cara ini dapat diterima dengan mengingat, bahwa di samping pemakaian kata “transmigrasi” dalam bahasa Indonesia juga dipakai kata “migrasi dan imigrasi”. Dengan demikian kata “transmigrasi” pemisahan suku katanya: trans-mig-ra-si.

Kata yang sejenis dengan kata transmigrasi ialah transliterasi, transaksi, transpormasi, transfusi. Untuk pemisahan kata “transkripsi” lebih muda/lebih baik, karena di samping diserap kata “transkripsi” juga “skripsi”. Jadi dengan cara trans-skrip-si  berarti keutuhan penulisan “skripsi” (yang penulisan suku katanya skrip-si). Untuk kata “ transisi” penulisannya adalah tran-si-si.

 

 

5. Pemisahan Kata Atas Suku-sukunya

Pada waktu berbahasa latin, kita tidak pernah memikirkan masalah pemisahan kata-kata atas suku-sukunya. Akan tetapi pada saat berbahasa tulis kita dihadapkan pada masalah tersebut. Seperti halnya pentuasi, pemisahan kata-kata pun di dalam bahasa tertulis tidak boleh diabaikan, karena hal itu menyangkut baik atau tidaknya, benar atau tidak benarnya kita menggunakan bahasa tertulis. Pengtuasi dan pemisahan suku-suku kata termasuk faktor yang menentukan nilai bahasa tersebut.

a.       Pemisahan suku-suku kata dasar

1). Kata dasar yang bersuku Satu

Dalam bahasa Indonesia ditemukan beberapa kata yang bersuku satu. Misalnya: sah, ayah, teh, cat, tik, (mesin), tak (tidak), dan, yang, di, ke, dan lain-lain. Kata-kata itu tidak dibicarakan karena tidak dipisah-pisahkan lagi atas suku-suku katanya.

Perlu dikemukakan, bahwa ada beberapa kata yang pada mulanya bersuku satu kemudian dibentuk menjadi dua suku, dengan cara menambah e bakti (peper). Misalnya: mas menjadi e-mas, dan lain-lain. Dalam hal ini e bakti menjadi suku pertama dan bagian lainnya menjadi suku kedua.

Jika kata-kata yang bersuku satu, tidak termasuk tak, dan, yang, di, ke, mendapat awalan me atau pe, atau kombinasi dengan akhiran, maka kata-kata itu hendaknya dianggap sudah bersuku dua dengan memberi e bakti. Jadi: sah, the, cat, tik, bon, dan lain-lain maka menjadi esah, eteh, ecet, etik, ebon. Kalau diberi awalan me atau pe akan berbunyi: mengesahkan , mengeteh, mengecet, mengetik, mengebon, mengemas, mengelap, mengeram, dan lain-lain.

 

2). Kata dasar yang bersuku lebih dari satu

Pedoman yang dipakai pada waktu memisahkan suku-suku kata ialah jeda (pemberhentian) yang terdapat antara dengan suku waktu kita mengucapkan kata, itulah pedoman dalam pesukuan kata. Misalnya kita mengucapkan kata kursi, lambat-lambat jeda pertama pada waktu itu terjadi suatu bunyi r sebelum bunyi s. jeda yang terjadi sesudah bunyi i pada akhir kata merupaka jeda terakhir. Dengan cara demikian dapat ditentukan bahwa kata kursi terjadi dari dua suku, masing-masing kur dan si.

Selain itu kita dapat mengambil contoh lain, misalnya putra dan sekarang. Pada kata putra jeda pertama terjadi sesudah bunyi u sebelum bunyi t kemudian jeda akhir. Sedangkan pada kata sekarang, jeda pertama dan kedua terjadi masing-masing sesudah bunyi e (se) dan a (ka), lalu jeda akhir.

Di sini dapat ditentukan bahwa kata putra bersuku dua yaitu pu dan tra. Kata sekarang bersuku tiga yaitu se-ka-rang.

Pemisahan suku-suku kata dalam bahasa Indonesia sebenarnya telah diatur oleh EYD, dan telah disepakati bersama bahwa jika di tengah kata ada dua konsonan berurutan, pemisahan suku kata terdapat diantara dua konsonan itu.

misalnya:

putra                            put-ra

islam                            is-lam

madrasah                     mad-ra-sah

swasta                                     swas-ta

Kalau di tengah kata ada dua konsonan atau lebih, pemisahan terdapat diantara dua konsonan yang pertama dengan yang kedua.

Misalnya:

kontrak                        kon-trak

listrik                           lis-trik

kongkrit                       kong-krit

ultra                             ul-tra

instrumental                ins-tru-men-tal

Contoh lain yang besuku dua:

ibu                               i-bu

alam                             a-lam

taat                              ta-at

tata                              ta-ta

serta                             ser-ta

kancing                        kan-cing

tuan                             tu-an

tarik                             ta-rik

Contoh yang besuku tiga

kecapi                          ke-ca-pi

terasi                            te-ra-si

teripang                       te-ri-pang

lemari                          le-ma-ri

transisi                         tran-si-si

Contoh yang bersuku empat

kelelawar                     ke-le-la-war

kalajengking                ka-la-jeng-king

revolusi                        re-vo-lu-si

Contoh yang besuku lima

indonesia                     in-do-ne-si-a

darmawisata                dar-ma-wi-sa-ta

b.      Pemisahan Suku-Suku Kata yang Berimbuhan

1). Kata yang berawalan dan berakhiran

Untuk memisahkan suku-suku katayang berawalan, berakhiran, atau kombinasi awalan dengan akhiran, dan awalan dengan akhiran, hendaknya kita tentukan dahulu kata dasarnya. Nanti akan diketahui imbuhan yang pada umumnya merupakan suku tersendiri walaupun ada yang berubah bentuk.

Agar lebih yakin lagi kebenaran  atas suku-suku kata yang dipisahkan dengan imbuhannya, maka alangkah baiknya di samping kita mengetahui kata dasar, tahu pula yang mana imbuhannya, dalam hal ini awalan dan akhiran. Di bawah ini akan dikemukakan awalan dan akhiran.

 

a). Awalan

Awalan terdiri atas: me, ber, pe, per, se, ke, di, ter, kemudian ku dan kau sebagai pelaku dalam kalimat pasif yang diperlukan sebagai awalan.

Dalam rangkaiannya dengan kata dasar, ada awalan yang berubah bunyi atau bentuk, dan ada pula yang tidak. Awalan yang mengalami perubahan bentuk atau bunyi ialah: me, pe, ber, per, ter.

Pemakaian awalan me-/per berubah menjadi mem/pem waktu dirangkai dengan kata bunyi awalan b dan p.

Contoh:

mem-ban-tu (bantu)

pem-ban-tu

me-ma-kai (pakai)

pe-ma-kai

Pemakaian me/pe menjadi men/pen waktu dirangkaikan dengan kata yang bunyi awalan c, j, z, d, t.

contoh:

men-ca-ri (cari)

pen-ce-tak (cetak)

men-ja-di (jadi)

pen-ja-gal

men-zi-a-ra-hi (ziarah)

pen-zi-a-rah

men-da-pat (dapat)

pen-di-dik (didik)

me-na-ri (tari)

pe-na-ri

Pemakaian me/pe berubah menjadi meny/peny waktu dirangkaikan dengan kata yang bunyi awalan s.

Contoh:

me-nya-pu (sapu)

pe-nyi-ta (sita)

Pemakaian me/pe berubah menjadi meng/peng waktu dirangkaikan dengan kata yang bunyi awalan seluruh vokal bahasa Indonesia, yaitu: a, i, u, e, o dan k.

Contoh:

Meng-am-bil (ambil)

Meng-i-kat (ikat)

Meng-u-kur (ukur)

Meng-o-lah (olah)

Meng-e-kor (ekor)

Me-ngu-bur (kubur)

Untuk peng…. sejajar dengan meng….

Dari uraian awalan me atau pe antara lain diperoleh satu batasan dalam kaidah bahasa Indonesia yang menyangkut kata-kata yang berbunyi awalan salah satu dari: k, p, s, t.

Menurut Sudarmo (1982 : 81) mengatakan bahwa batasan bunyi “jika awalan me atau pe dirangkaikan dengan salah satu bunyi awalnya k, p, s, t, bunyi itu lebur atau hilang atau timbul bunyi sengau atau bunyi hidung pengganti bunyi yang hilang itu, masing-masing.

Contoh:

karang                         me-nga-rang

kategori                       me-nga-te-go-ri-kan

panah                           me-ma-nah

pinang                         me-mi-nang

sapu                             me-nya-pu

sita                               me-nyi-ta

sukses                          me-nyuk-ses-kan

Dengan demikian, dapat kita bedakan pemisahan suku kata mengukur panas dengan mengukur kelapa, karena ada dasarnya.

Contoh:

Ibu sedang me-ngu-kur (kukur) kelapa di dapur.

Dokter meng-u-kur (ukur) suhu badan pasien.

Bunyi ng di sini adalah menggatikan bunyi k yang hilang, seperti halnya dengan kata:

me-ngu-rung anak ayam (kurung)

meng-u-rung-kan keberangkatan (urung)

Awalan me/pe tetap berbunyi me/pe jika dirangkai dengan kata yang berbunyi awalan l, m, n, r, w, y.

Contoh:

Me-la-tih                     (latih)

Pe-la-tih                       (latih)

Me-ni-kah                    (nikah)

Pe-nu-jum                    (nujum)

Me-wa-ris-i                  (waris)

Pe-wa-ris-I                  (waris)

Me-ma-sak                  (masak)

Pe-ma-sak                    (masak)

Me-ra-sa                      (rasa)

Pe-ra-sa                       (rasa)

Pemakaian awalan ber, ter, awalan ber berubah menjadi be bila dirangkaikan dengan kata yang bunyi awalnya r atau suku pertama berakhir dengan bunyi er.

Contoh:

be-ra-sa                        (rasa)

be-ru-pa                       (rupa)

be-ser-ta                      (serta)

Ber yang berubah menjadi bel dianggap kata dasar dalam pemindahan suku-suku katanya.

Contoh:

te-ra-sa                                    (rasa)

te-ra-mai                      (ramai)

Di samping itu, ada pula kata beruang yang dapat berubah arti.

Nama dipisahkan menjadi be-ru-ang.

Mempunyai uang, dipisahkan menjadi: ber-u-ang.

(be berasal dari kata ber). Tetapi bila kata beruang dengan maksud mempunyai uang, maka dipisahkan menjadi ber-u-ang (mempunyai uang).

 

b). Akhiran

Akhiran terdiri atas: kan, i, an, wan, man, wati, is, isme, ah, (iah); dan beberapa partikel penegas: kah, tah, lah, pun, pengganti kepunyaan ku, mu, nya.

Contoh:

Te-gak-kan (tegak)

Ku-bur-an (kubur)

Bu-di-man (budi)

Lem-par-i (lempar)

Har-ta-wan (harta)

Su-ka-re-la-wa-ti (sukarela)

Pan-ca-si-la-is (pancasila)

Ro-ha-ni-ah (rohani)

a-pa-tah (apa)

mes-ki-pun (meski)

mi-lik-mu (milik)

su-ku-isme (suku)

can-tik-kah (cantik)

ma-suk-lah (masuk)

ga-dis-ku (gadis)

a-yah-nya (ayah)

c). Sisipan

Sisipan dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan el, em, er.

Pemakaian sisipan el

 

 

Contohnya:

tapak + el  =  telapak

patuk +  el  =  pelatuk

Pemakaian sisipan em

Contohnya:

guruh + em  = gemuruh

getar  +  em  = gemetar

Pemakaian sisipan er

Contohnya:

gigi   + er    =  gerigi

getak + er    = geretak

  1. Kerangka Pikir

Dengan kalimat uraian yang telah dipaparkan diatas maka pada bagian ini akan dikemukakan beberapa hal yang dijadikan landasan berpikir.  Landasan berpikir yang dimaksud tersebut akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan informasi dalam penelitian ini, guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan. Adapun landasan berpikir yang dimaksud adalah:

1.      Dalam bahasa Indonesia kita harus terlebih dahulu mampu menerapkan kaidah bahasa Indonesia, khusunya cara memisahkan suku kata atau pemenggalan kata bahasa Indonesia.

2.      Untuk mengetahui kaidah bahasa Indonesia, diperlukan waktu yang cukup, latihan yang teratur dan terarah serta sikap positif dalam bahasa Indonesia.

3.      Mengenai kaidah bahasa Indonesia khususnya memisahkan suku kata bahasa Indonesia berarti dapat mengungkapkan ide atau gagasan dalam tulisan maupun lisan dengan benar dan tepat.

  1. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir di atas, diajukan hipotesis sebagai jawaban sementara dalam penelitian ini, yaitu: “kemampuan memisahkan suku kata dalam bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar belum memadai”.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan. Sebagai upaya ilmiah suatu penelitian, maka metode yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan cara kerja, cara memperoleh data sampai mendapatkan kesimpulan.

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan analisis statistik ragam presentase dari skor rata-rata yang dicapai seluruh item tes. Hal ini, dimaksud untuk mengetahui bagaimanakah tingkat kemampuan siswa kelas V SD Inpres Banta-bantaeng Makassar memisahkan suku kata bahasa Indonesia.

Metode dalam penelitian ini meliputi: variabel, dan desain penelitian, definisi operasional variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.

A. Variabel dan Desain Penelitian

1. Variabel

Hadi dalam Arikunto (1991 : 89) mendevinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga yang dijadikan titik penelitian dalam suatu penelitian adalah variabel, baik yang bersikap kuantitatif maupun kualitatif.

Bertolak dari definisi di atas dapat ditentukan variabelyang diamati dalam penelitian ini ialah memisahkan suku kata bahasa Indonesia.

2. Desain Penelitian

Menurut Adi desain penelitian adalah:

“Rancangan penyelidikan atau kegiatan dalam pengumpulan, pengelolaan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis, konsisten, kontinyu, dan objektif untuk memecahkan suatu permasalahan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum, baik yang bersifat teoritis maupun praktis, sehingga tidak terjadi adanya kontaminasi yang paling kecil sekalipun dari variabel lain” (Adi, 1993 : 14).

Lebih lanjut Adi mengatakan:

“Jadi yang dibicarakan atau yang dirancang dalam desain penelitian adalah instrumen yang dijadikan sebagai alat penjaring data (pengumpulan data) dan metode yang digunakan untuk keperluan pengolahan dan penyajian data penelitian” (Adi, 1993 : 15)

Bertolak dari definisi di atas, maka penulis menyusun desain penyajian untuk pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Langkah-langkah yang ditempuh penulis adalah merumuskan dan menyusun instrumen penelitian kemampuan memisahkan suku kata bahasa Indonesia berpolakan: (a) V, (b) VK, (c) KV, (d) KVK, (e) KKV, (f) KKVK, (g) VKK, (h) KVKK, (i) KKVKK, (j) KKKV, (k) KKKVK.

Prosedur pengukuran aspek-aspek di atas dilakukan dengan mengajukan tes tertulis pada siswa. Tiap aspek yang diukur terdiri atas:

(a). Pola V                Sebanyak 2 butir tes

(b). Pola VK             Sebanyak 2 butir tes

(c). Pola KV             Sebanyak 2 butir tes

(d). Pola KVK         Sebanyak 2 butir tes

(e). Pola KKV          Sebanyak 2 butir tes

(f). Pola KKVK       Sebanyak 2 butir tes

(g). Pola VKK          Sebanyak 2 butir tes

(h). Pola KVKK       Sebanyak 2 butir tes

(i). Pola KKVKK     Sebanyak 2 butir tes

(j). Pola KKKV        Sebanyak 1 butir tes

(k). Pola KKKVK    Sebanyak 1 butir tes

Selanjutnya ke 20 butir tes ini disajikan kepada siswa kelas V SD Inpres Banta-bantaeng Makassar yang dijadikan sampel.

Berdasarkan prinsip pertimbangan atas junmlah tes yang disajikan pada setiap pola yang dinilai, maka diberikan skor 10 (sepuluh) untuk setiap butir soal yang benar, skor 5 (lima) untuk setiap butir soal yang separuh benar, dan skor 0 (nol) untuk butir tes yang salah. Ini berarti siswa mampu mengerjakan 20 butir tes dengan benar diberi skor 100 atau skor tertinggi.

Sistem penulisan demikian dipergunakan untuk mengetahui skor kuantitatif  kemampuan siswa memisahkan suku kata dengan akurat. Guna untuk mengetahui presentase kemampuan memisahkan suku kata bahasa Indonesia siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar secara kolektif digunakan metode deskriptif. Yang dimaksud dengan metode deskriptif ialah pemberian gambaran sebagaimana adanya, sejalan dengan prinsip-prinsip penerapan metode tersebut dalam penelitian pendidikan. Penelitian ini tidak berhenti sampai pengumpulan data saja, tetapi data yang terkumpul akan diolah dan dianalisis untuk menguji hipotesis. Pengumpulan data, pengolahan data, dan penganalisisannya dilakukan dengan menggunakan ragam statistik persentase.

B. Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional variabel pada hakikatnya adalah merupakan pendefinisian variabel dalam bentuk yang dapat diukur, agar lebih luas dan dapat menimbulkan bias atau membingungkan. Penelitian bebas menentukan, merumuskan definisi operasional, sesuai dengan tujuan penelitiannya, dan tatanan teoritik dari variabel-variabel yang ditelitinya (Adi, 1993 : 17).

Bertolak dari pengertian diatas, maka definisi operasional variabel yang dimaksud dalam penelitian ini, adalah: mengamati secara seksama kekeliruan dalam memisahkan bagian kata atau memenggal kata berdasarkan bagian kata yang diucapkan dalam suatu hembusan nafas dan umumnya terdiri dari beberapa fonem, yaitu meneliti V, VK, KV, KVK, KKV, KKVK, VKK, KVKK, KKVKK, KKKV, KKKVK, dengan dasar itu dapat diambil datanya.

Siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar dapat dikatakan mampu membedakan suku kata dalam bahasa Indonesia apabila 85 %  siswa  berhasil memperoleh nilai rata-rata 6,5 ke atas. Demikian pula sebaliknya siswa kelas V SD Inpres Banta-bantaeng Makassar dapat dikatakan tidak mampu membedakan suku kata dalam bahasa Indonesia apabila kurang dari 85 %  siswa  berhasil memperoleh nilai rata-rata di bawah 6,5.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, baik berupa manusia, benda, peristiwa maupun gejala yang terjadi (Ali, 1992).

Berdasarkan definisi di atas, maka populasi dalam penelitian ini, adalah semua siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar. Untuk lebih jelasnya keadaan populasi siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Keadaan Populasi

No. Kelas Siswa
1. V 42
Total 42

 

Tabel di atas memperlihatkan bahwa jumlah populasi siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar yaitu 42 orang. Maka besarnya populasi siswa kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar sebanyak 42 orang (sumber kepala sekolah) tahun pelajaran 2009/2010.

 

2. Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah purporsiv sampel. Menurut Arikunto purporsiv sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas adanya tujuan tertentu (1993 : 113).

Berdasarkan definisi di atas, maka peneliti menunjuk kelas V sebagai sampel. Penarikan sampel dilakukan dengan dasar yang dikemukakan oleh Arikunto bahwa untuk sekedar ancer-ancer apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 – 15%, atau 20 – 25%, atau lebih (Arikunto, 1991 : 107).

Berdasarkan pendapat di atas maka penulis mengambil semua jumlah populasi yang ada di kelas V SD Inpres Banta-Bantaeng Makassar, disebabkan subjek kurang dari 100. untuk lebih jelasnya keadaan sampel dapat dilihat pada tabel dua berikut:

No. Kelas Siswa
1. V 42
Total 42

 

Tabel 2 di atas memperlihatkan jumlah sampel sebanyak 42 orang.

 

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan penulis dalam mengumpulkan data ialah teknik tes, tes yang diedarkan dalam penelitian ini ialah tes menguraikan. Penulis membagikan tes tersebut pada setiap responden atau siswa yang menjadi sampel penelitian.

E. Teknik Analisis Data

Berdasarkan instrumen yang telah dipaparkan di atas maka data akan dianalisis berdasarkan teknik analisis seragam persentase yang dideskripsikan dalam bentuk tabel.

Cara menganalisis data (Arikunto, 1991 : 109) sebagai berikut:

1.      Membuat daftar skor mentah.

2.      mencari beberapa persen siswa sampel yang mendapat sampel skor 65 ke atas dengan rumus:

Jumlah siswa yang mendapat skor 65 ke atas

X 100

Jumlah seluruh siswa

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENILITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Penyajian Hasil Analisis Data

Suku kata adalah sebagian dari sebuah kata yang membentuk suatu kata kesatuan puncak kenyaringan. Kecuali kata monosilabis (yaitu kata-kata yang terdiri dari satu suku kata saja seperti: mas, las, khas, bab, dan sebagainya) suku kata sama sekali tidak mengandung pengertian. Walaupun demikian, suku kata sangat penting untuk diketahui setiap orang terutama dalam hubungan dengan pemisahan sebuah kata atas bagian-bagiannya, khususnya pada akhir sebuah baris. Dalam tulisan harus diadakan pemisahan suku kata dengan cermat.

Sehubungan dengan itu, pada bab IV akan dikemukakan kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia. Oleh karena itu untuk mengetahui siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng diadakan tes pada sejumlah siswa sampel yang dapat mewakili sejumlah populasi.

Tes yang diberikan kepada siswa sampel sebanyak 20 butir tes dalam bentuk uraian. Berdasarkan pada prinsip dan pertimbangan dalam mengevaluasi, maka pemberian skor dilakukan dengan menggunakan standar mutlak yaitu nilai 10 (sepuluh) untuk setiap butir soal yang benar, skor 5 (lima) untuk setiap butir soal yang separuh benar, dan skor 0 (nol) untuk butir tes yang salah. Dengan demikian jika benar secara keseluruhan diberi nilai 100 (seratus). Adapun kriteria yang digunakan sebagai standar mutlak dalam menentukan memadai tidaknya kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng terhadap pemisahan suku kata bahasa Indonesia adalah skor 65 dengan presentase 85 %.

Bila skor yang dicapai siswa dalam mengerjakan tes mencapai skor 65 dengan presentase 85 keatas, maka siswa tersebut dikategorikan telah memiliki kemampuan yang memadai. Sebaliknya jika kurang dari 65, maka kemapuan memisahkan suku kata bahasa Indonesia tidak memadai.

Sedangkan untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan skor rata-rata. Skor rata-rata inilah yang dipresentasekan. Selanjutnya, skor rata-rata kelas sampel dijumlahkan kemudian dibagi dengan jumlah siswa kelas sampel yang dijadikan responden. Untuk  kelas V SD Inp. Banta-bantaeng jumlah kelas pada tahun ajaran 2009/2010 sebanyak satu kelas. Satu kelas tersebut sebagai kelas populasi dan juga sebagai sampel. Itulah hasil terakhir yang menentukan kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia berdasarkan kriteria tersebut.

1. Analisis Kuantitatif

Data yang diperoleh dari penelitian ini, akan dianalisis menurut teknik dan prosedur yang telah disebutkan pada tabel tiga.

a. Data

Data yang dimaksud dalam uraian selanjutnya merupakan nilai atau skor perorangan yang diperoleh siswa dari keseluruhan soal yang diujikan. Data tentang kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia yang diperoleh merupakan skor kuantitatif dari hasil tes yang diujikan. Skor tersebut masih merupakan skor mentah. Adapun skor yang dimaksud dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3. Skor Kuantitatif Kemampuan Siswa Kelas V SD Inp. Banta-bantaeng Memisahkan Suku Kata Bahasa Indonesia

No. Nama Nilai
1. Fahrul 60
2. Ismail 90
3. Letkol Mandrani 0
4. Muh. Firdaus 80
5. Muh. Hasim 75
6. Wahyu Indrtianto 70
7. Andika 85
8. Muhammad 0
9. Agung 70
10. Agus 75
11. Agus Salim 75
12. Amar Ma’ruf 85
13. Arsun 0
14. Erlyn Yudha 75
15. Hasim 85
16. Irsandi 60
17. Lukas Anto 90
18. Muh. Akbar 70
19. Muh. Ferdiansyah 0
20. Muh. Hardian 65
21. Muh.Sukri 60
22. Randi 0
23. Rustam 60
24. Sukur Sirajuddin 90
25. Adriani 60
26. Ika Ayu Lestari 90
27. Indah Sari 80

 

No.   Nilai
28. Mutmainnah 70
29. A. Ismayanti 85
30. Adiba Khalid 85
31. Andini Puspita 80
32. Angraeni 70
33. Asriani 70
34. Fadillah 95
35. Harianti 0
36. Hasmila Putri 90
37. Jeni. S 75
38. Mayorrisah 55
39. Nurfitriani 70
40. Rahma Armuna 70
41. Rivanti 70
42. Indah Safitri 80

 

 

b. Analisis

Tabel 3 diatas menggambarkan keadaan skor yang telah dicapai oleh siswa. Keadaan skor dimaksudkan untuk mengetahui berapa banyak siswa yang memperoleh skor 65 ke atas. Setiap skor yang mungkin dicapai adalah skor nol sampai seratus. Skor nol sampai seratus itu tidaklah dicantumkan, yang dicantumkan hanyalah jika ada responden yang memperolehnya.

Keadaan skor yang diperoleh kelas sampel akan disajikan dalam tabel 4 tersendiri. Berikut ini tabel kelas V.

 

 

Tabel 4. Keadaan Skor Kemampuan Siswa Kelas V SD Inp. Banta-bantaeng Memisahkan Suku Kata Bahasa Indonesia

 

No Skor Jumlah Sampel Jumlah Skor
1 95 1 95
2 90 5 450
3 85 5 425
4 80 4 320
5 75 5 375
6 70 9 630
7 65 1 65
8 60 5 300
9 55 1 55
10 0 6 0
Jumlah 42 2715

 

Selanjutnya, dalam tabel di atas dapat dilihat berapa siswa yang memperoleh skor 65 ke atas. Kemudian dapat diketahui kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas

X 100

Jumlah seluruh siswa

Berdasarkan rumus diatas maka dapat diketahui kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia yakni:

 

 

30

X100  = 71,4

42

Jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas berjumlah tiga puluh (30) orang. Maka kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai karena skor yang dicapai masih dibawah standar keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya 85 % dari jumlah sampel yang memperoleh skor atau nilai 65 keatas, sedangkan perolehan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia adalah 30 atau 71,4 %.

Setelah mengetahui berapa siswa sampel yang memperoleh nilai atau skor 65 ke atas, maka analisis selanjutnya adalah menentukan skor rata-rata kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia. Untuk menentukan skor rata-rata kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia adalah hasil skor setiap siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia dijumlahkan kemudian dibagi dengan jumlah sampel yang diteliti. Hasil penjumlahan dan hasil pembagian inilah yang merupakan  skor yang dicapai oleh siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng.

Adapun skor rata-rata yang telah diperoleh siswa sampel kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia dapat dilihat pada tabel 5 berikut:

Tabel 5. Skor Rata-rata Kemampuan Siswa Kelas V SD Inp. Banta-bantaeng Memisahkan Suku Kata Bahasa Indonesia

 

 

No.

 

Jumlah sampel

Yang memperoleh 65 ke atas  

Presentase

 

Jumlah Skor

1. 42 30 71,4 2715

 

Data pada tabel 5 di atas menunjukkan skor rata-rata kelas sampel yang memperoleh 65 ke atas. Skor tersebut menunjukkan kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia. Siswa sampel kelas V adalah 42  orang dan diperoleh 30 orang yang menguasai atau memperoleh nilai 65 ke atas dengan presentase 30 (71,4 %).

Berdasarkan kriteria yang digunakan sebagai standar keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya 85 %  siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas, maka dapat disimpulkan bahwa siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai.

Untuk menentukan skor rata-rata yang diperoleh  siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia, maka jumlah skor rata-rata yang diperoleh dibagi dengan jumlah sampel yang ditetapkan/diteliti.

Dengan demikian, skor rata-rata yang dimaksud adalah:

2715

= 64,64

42

Uraian diatas telah memberikan gambaran mengenai kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia. Berdasarkan uraian hasil-hasil penelitian yang telah diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa  “kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai”. Hal ini disebabkan nilai yang diperoleh siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng yang memperoleh nilai 65 ke atas berjumlah 30 orang dengan presentase 71,4 (71,4 %). Sedangkan hasil keberhasilan sekurang-kurangnya 85 %  siswa yang menguasai atau yang memperoleh nilai 65 ke atas.

2. Hasil Kualitatif

Berdasarkan hasil temuan penelitian, berikut ini dikemukakan hasil penelitian tersebut. Kesimpulan hasil temuan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 7 berikut.

Tabel 7. Pernyataan kesimpulan sebagai pengujian hipotesis

 

Hipotesis/Isi Pengujian
kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia  

 

Diterima

 

  1. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian di atas, yaitu kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai. Karena siswa yang berhasil memperoleh nilai 65 ke atas 30 orang dengan presentase 71,4 (71,4 %) dan nilai rata-ratanya 64,64 (64,64 %). Sedangkan kriteria atau norma yang dijadikan tolok ukur dalam keberhasilan memadai atau tidaknya adalah sekurang-kurangnya 85 % siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas. Hal ini dapat dilihat dari skor yang dicapai siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng.

Adapun jumlah siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng yang memperoleh nilai 65 ke atas berjumlah 30 orang dengan presentase 71,4 (71,4 %).

Setelah dianalisis maka skor rata-rata sekolah adalah atau jumlah skor seluruh siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas adalah 24 orang dengan jumlah rata-rata  64,64 (64,64 %). Berarti kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai dan berakhir dengan hipotesis diterima.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bagian ini dikemukakan secara singkat kesimpulan dan saran yang diperoleh dari hasil penelitian ini.

  1. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalahsebagai berikut:

Kemampuan kelas V siswa SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai. Sebab nilai rata-rata yang dicapai siswa masih di bawah standar keberhasilan yang dipakai sebagai tolok ukur yaitu sekurang-kurangnya 85 % dari seluruh jumlah siswa sampai yang mendapat skor 65 ke atas. Adapun jumlah siswa sampel SD Inp. Banta-bantaeng yang memperoleh nilai 65 ke atas berjumlah 30 orang dengan presentase 71, 4  dan nilai rata-rata 64,64 %.

Dengan demikian skor yang dicapai kelas V tersebut dan rata-rata siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai dan berakhir dengan hipotesis diterima.

 

 

 

 

 

  1. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan di atas, maka dapatlah dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

    1. kemampuan siswa kelas V SD Inp. Banta-bantaeng memisahkan suku kata bahasa Indonesia belum memadai, untuk lebih meningkatkan kemampuannya hendaklah memperbanyak latihan di samping pengajaran yang bersifat teoritis.
    2. Perlu mengadakan sarana dan fasilitas yang memadai sehingga dapat menunjang pelaksanaan pengajaran penulisan suku kata.
    3. Hendaknya guru bahasa Indonesia, baik yang menyangkut bidang studi itu sendiri maupun yang menyangkut strategi belajar mengajar lebih memperluas dan memdetailkan pelajaran ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

TES KEMAMPUAN SISWA KELAS V SD INP. BANTA-BANTAENG MEMISAHKAN SUKU KATA BAHASA INDONESIA

NAMA                        :………………………………………

NISN                          :………………………………………

KELAS                       :……………………………………..

SEKOLAH                 :…………………………………….

PETUNJUK

  1. Bacalah soal ini dengan seksama !
  2. Uraikan kata-kata di bawah ini sesuai dengan polanya !
  3. Tidak diperbolehkan melakukan kerja sama !

SOAL-SOAL

Pisahkanlah suku kata di bawah ini sesuai dengan pola pemenggalan suku kata yang tepat !

  1. Yang berpola Vokal (V), Pemenggalannya adalah:
    1. Ayah
    2. anak
  2. Yang berpola Vokal Konsonan (VK), Pemenggalannya adalah:
    1. arti
    2. main

 

 

  1. Yang berpola Konsonan Vokal (KV), Pemenggalannya adalah:
    1. siswa
    2. makan
  2. Yang berpola Konsonan Vokal konsonan (KVK), Pemenggalannya adalah:
    1. harus
    2. dalam
  3. Yang berpola Konsonan Konsonan Vokal (KKV), Pemenggalannya adalah:
    1. tradisi
    2. produksi
  4. Yang berpola Konsonan Konsonan Vokal Konsonan (KKVK), Pemenggalannya adalah:
    1. listrik
    2. prestasi
  5. Yang berpola Vokal Konsonan Konsonan (VKK), Pemenggalannya adalah:
    1. ekspor
    2. ekstra
  6. Yang berpola Konsonan Vokal Konsonan Konsonan (KVKK), Pemenggalannya adalah:
    1. modern
    2. elips

 

 

  1. Yang berpola Konsonan Konsonan Vokal Konsonan Konsonan (KKVKK), Pemenggalannya adalah:
    1. tripleks
    2. transmigrasi
  2. Yang berpola Konsonan Konsonan Konsonan Vokal (KKKV), Pemenggalannya adalah:
    1. instrument
  3. Yang berpola Konsonan Konsonan Konsonan Vokal Konsonan (KKKVK), Pemenggalannya adalah:
    1. struktur

 

 

——–Selamat Bekerja——-

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s